BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Sebagai mana diterangkan bahwasana ilmu
imu al qur an itu banyak sekali macamnya, didalam pembahasan ini sesuai dengan
namanya ilmu asbabul nuzul, maka tidak semua ilmu al quran dibahas dengan
seperinci mungkin melainkan hanya sebagian ilmu ilmu yang sekiranya penting.
Dalam tugas ilmu ulumul qur’an ini kami mencoba memaparkan tentang asbab
an-nuzul qur’an dan beberapa hal yang tetkait di dalamnya.
B.
Rumusan Masalah
Untuk membahas
makalah ini lebih lanjut, di perlukan adanya rumusan masalah sebagai berikut:
·
Pengertian Asbabun An-Nuzul
·
cara mengetahui riwayat asbab an-nuzul
·
jenis jens riwayat asbab an-nuzul
·
Pengetahuan Sahabat tentang Asbabun Nuzul
·
Cara-cara turunnya Al-Quran
·
Pentingnya Ilmu Asbabun Nuzul
C.
Tujuan Penulisan
Untuk memenuhi tugas makalah dari
mata kuliah ulumul qur’an, serta kita bisa lebih mengenal tentang silsilah
asbabun nuzul dan lebih memudahkan kita untuk mempelajari lebih jauh lagi
sehingga dalam proses mempelajarinya kita tidak menemukan kesulitan.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Asbabun An-Nuzul
a) pengertian asbabun nuzul secara
etimologi
Asbabun An-Nuzul, secara bahasa
berasal dari kata asbab yang berarti
latar belakang, alasan atau sebab/’illat , dan nazala yang berarti turun.
b) Asbabun Nuzul Secara Terminology
menurut M.Hasbi Ash Shiddiqi,asbabun
nuzul adalah sebagai kejadian yang karenanya diturunkan alquran untuk
menerangkan hukumnya dihari timbul kejadian-kejadian itu dan suasana didalamnya
alquran diturunkan.
Pendapat yang hampir sama juga
dikemukakan oleh Subhi as-Salih yaitu sesuatu yang menyebabkan turunnya satu
atau beberapa ayat yang memberi jawaban terhadap sebab itu, atau menerangkan
hukumnya pada masa terjadinya sebab itu.
Menurut Manna Khalil Al-Qattan,
ما
نزل قران بشاء نه وقت وقوعه كحا ثه اوسؤال
"ِAsbabun
Nuzul adalah peristiwa yang menyebabkan turunnya al quran berkenaan dengannya
waktu peristiwa itu terjadi, baik berupa satu kejadian atau berupa pertanyaan
yang diajukan kepada Nabi”.
Subhi AsShali dalam bukunya;
mabahith fi Ulum Al-Quran;
ما
نزلت الا ية اوالايات بسببه متضمنة له او مجيبة عنه او مبينة لحكمه زمن وقوعه
Asbab An-Nuzul adalah sesuatu yang
menjadi sebab turunnya satu atau beberapa ayat Al-Quran yang terkadang
menyiratkan suatu peristiwa sebagai respon atasnya atau sebagai penjelas
terhadap hukum-hukum ketika peristiwa itu terjadi.
Dari beberapa pendapat diatas maka
dapat disimpulkan, bahwa secara umum asbabun nuzul adalah suatu konsep, teori,
atau berita tentang sebab-sebab turunnya wahyu tertentu dari Al-Quran kepada nabi
Muhammad SAW, baik berupa satu ayat maupun rangkaian ayat atau juga bisa di
sebut kejadian yang karenanya di turunkan al quran untuk menerangkan hukumnya
di hari timbul kejadian kejadian itu dan suasana yang ada di dalam al quran diturunkan serta
membicarakan sebab yang muncul baik diturunkan langsung sesudah terjadi sebab
ataupun lantaran sesuatu hikmah .[1]
B) Cara mengetahui riwayat asbab an-nuzul
Asbab
an-nuzul adalah peristiwa yang terjadi pada zaman rasullullah saw, oleh karna
itu, yidak ada jalan untuk mengetahuinya selain berdasarkan periwayatan yang
benar (naql as-saliih) dari orang orang yang melihat dan mendengar langsung
turunya ayat al quran, serta tidak mungkin dapat diketahui dengan jalur ro’yi
atau pikiran manusia.
Dalam hal ini alwahidi berkata :
لايحل
القول في اسباب نزول الكتاب الاّ بالرواية والسماع ممن شاهدو التتريل ووقفوا علي
الاسباب وبحثوا عن علمها
Artinya: tidak
boleh memperkatakan tentang sebab sebab turun al quran melainkan dengan dasar
riwayat dan mendengar dari orangorang yang menyaksikan ayat itu diturunkan
dengan mengetahui sebab sebab serta membahas pengertianya.
Singkatnya asbabul nuzul di ketahui
melalui riwayat yang disandarkan kepada nabi Muhammad saw tetapi tidak semua
riwayat yang diriwayat yang disandarkan kepadanya dapat dipegang, riwayat yang
dapat di pegang ialah riwayat yang memenuhi syarat-syarat tertentu sebagai mana
di tetapkan para ahli hadist . secara khusus dari riwayat asbabun nuzul ialah
riwayat dari orang orang yang terlibat dan mengalami peristiwa yang di riwayatkanyaitu
pada saat wahyu turun, riwayat yang berasal dari tabiin yang tidak merujuk pada
rasulullah saw dan para sahabatnya dianggap lemah atau dhoif.
Berdasarkan keterangan diatas, maka
sebab anuzul yang diriwayatkan dari seorang sahabat dapat diterima sekalipun
tidak di kuatkan dan didukung riwayat lain.[2]
C) Jenis Jenis Riwayat Asbab An-Nuzul
Riwayat
riwayat asbab an-nuzul dapat digolongkan dalam dua kategori yaitu: Riwayat
riwayat yang pasti dan tegas, dan riwayat-riwayat yang tidak pasti (mungkin).
Kategori
pertama para periwayat dengan tegas menunjukan bahwa peristiwa yang di
riwayatkan berkaitan erat dengan asbab an-nuzul.
Sedangkan
kategori kedua (mungkin), perawi tidak menceritakan dengan jelaas bahwa
peristiwa yang diriwayatkan berkaitan erat dengan asbab an-nuzul, tetapi hanya
menjelaskan kemungkinan kemungkinannya.
Daari segi jumlah sebab dan ayat
turun , sebab anuzul dapat dibagi kepada:
1.
Ta’addud al-asbab wa al-nazil wahid
Beberapa sebab yang hanya melatar belakangi turunya suatu ayat atau
wahyu. Terkadang wahyu turun untuk menanggapi beberapa peristiwa atau sebab,
misalnya turunya QS. Al-Ikhlas :1-4
Yang artinya: katakanalah : dial ah ALLAH, yang maha esa, ALLAH
adalah Tuhan yang bergantung kepadanya segala sesuatu. Tiada beranak dan tiada
pula diperanakan dan tiada seorang pun yang setara dengan dia.
Ayat-ayat yang trdapat pada surat di atas turun sebagai tanggapan
terhadap orang-orang musyrik mekah sebelum nabi hijrah dan terhadap kaum ahli
kitab yang ditemui di madinah setelah hijrah
2.
Ta’addud an-nazil wa al-asbab wahid
Satu sebab yang melatar belakangi turunya beberapa ayat, contoh: QS
ad dukhan 10,15,16;
فارتقب يوم تأتي
السماء بد خان مبين
Maka tunggullah hari ketika langit membawa kabut yang nyata.
إنا كا شفو
اْالعذاب قليلا ،إنكمعاءدون
Sesungguhnya (kalau) kami akan melenyapkan siksaan itu agak sedikit
sesungguhnya kamu akan kembali (ingkar)
يوم نبطش البطشة
الكبري إنا منتقمون
(ingatlah) hari (ketika) kami menghantam mereka dengan hantaman
yang keras. Sesungguhnya kami adalah pemberi balasan.
Asbab an- nuzul dari ayat ayat tersebut adalah dalam suatu riwayat
di kemukakan, ketika kaum quraisy durhaka kepada nabi saw, beliau berdo’a agar
mereka mendapatkan kelaparan umum seperti kelaparan yang pernah terjadi pada
zaman nabi yusuf as. Alhasil mereka menderita kekurangan, sampai sampai
merekapun makan tulang, sehingga turunlah qur’an surat ad dukhan ayat 10.
Kemudian mereka menghadap nabi saw untuk meminta bantuan. Maka rasulullah
berdo’a agar di tutunkan hujan, akhirnya hujanpun turun, maka turunlah ayat
selanjutnya, qur’an surat ad dukhan ayat 15. Namun setelah mereka memperoleh
kemewahan merekapun kembali kepada keadaan semula (sesat dan durhaka) maka
turunlah ayat ini qu’an surat ad dukhan ayat 16. Dalam riwayat tersebut di kemukakan
bahwa siksaan itu akan turun pada waktu perang badar.[3]
D) Cara-cara
turunnya Al-Quran
Fakta sejarah menunjukkan bahwa
turunnya ayat-ayat Al-Quran itu ada dua macam, yaitu:
1)Ayat-ayat
yang turun dengan didahului suatu sebab
Dalam
hal ini ayat-ayat tasyri’iyyah atau ayat-ayat hukum merupakan ayat-ayat yang
pada umunya mempunyai sebab turunnya. Jarang(sedikit) sekali ayat-ayat hukum
yang turun tanpa suatu sebab. Dan turunnya suatuayat itu adakalanya berupa
peristiwa yang terjadi di masyarakat islam dan adakalanya berupa pertanyaan
dari kalangan islam atau arikalangan lainnya yang ditujukan kepada Nabi.
Contoh ayat yang turun karena ada
suatu peristiwa, ialah sural al-Baqoroh ayat 221:
ولا
تنكحوا المشركات حتي يؤمن ولا مة مؤمنة خير من مشركة ولواعجبتكم ولا تنكحوا
المشركين حتي يؤمنا ولاعبد مؤمن خر من مشرك ولو اعجبكم اولئك يدعون الي النار
والله يدعو الي الجنة والمغفرة باءذنه ويبين اياته للناس لعلهم يتذكرون
“Janganlah kamu nikahi wanita-wanita
musyrik,sebelum mereka beriman; sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih
baik dari wanita musyrik walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu
menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum
merekaberiman; Sesunguhnya budak yang
mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu; Mereka
mengajak ke Neraka sedang Allah mengajak ke Syurga dan ampunan dengan izin-Nya.
Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia,
supaya mereka mengambil pelajaran.”
Tujuan ayat ini adalah, karena ada
peristiwa sebagai berikut: Nabi mengutus Murtsid al-Ghanawi ke Mekkah untuk
tugas mengeluarkan orang-orang islam yang lemah. Setelah dia sampai disana, dia
dirayu oleh wanita musyrik yang cantik
dan kaya, tetapi dia menolak karena takut kepada Allah. Kemudian wanita
tersebut datang lagi dan minta agar dikawini.
Murtsid pada prinsipnya dapat menerimanya, tetapi dengan syarat setelah
mendapat persetujuan dari Nabi. Setelah
dia kembali ke Madinah, dia menerangkan kasus yang dihadapi dan minta izin
kepada Nabi untuk menikah dengan wanita itu. Maka turunlah surah al-Baqarah
ayat 221.
2) Ayat-ayat yang turun tanpa didahului sesuatu sebab
Ayat-ayat
ini diturunkan oleh Allah bukan untuk memberi tanggapan terhadap suatu
pertanyaan atau suatu peristiwa yang terjadi pada waktu itu, melainkan
semata-mata untuk memberi petunjuk kepada manusia, agar menempuh jalan yang
lurus.
Karena itu tidaklah benar dugaan
sebagian ulama, bahwa setiap ayat yang turunitu mempunyai asbabun nuzul. Bahkan
hanya sebagian kecil saja ayat-ayat
al-Quran yag mempunyai asbabun nuzul, yakniayat-ayat ahkam.di luar ayat-ayat
ahkam, seperti ayat-ayat yang
mengisahkan hal-ihwal para nabi beserta umatnya, pada umumnya tidak punya
Asbabun Nuzulnya. Kalau ayat-ayat ini
bisa dikatakan punya asbabun
Nuzul, maka Asbabun Nuzulnya hanya mempunyai satu motif saja yang bersifat
umum, yakni untuk menghibur Nabi Muhammad dan untuk menguatkan hatinya dalam
menghadapi berbagai tantangan yang
keras, terutama dari kaumnya sendiri(quraisy). Misalnya ayat-ayat tentang kisah
Nabi Musa, yang berulang-ulang diungkapkan di tempat-tempat yang terpencar-pencar
dengan gambaran peristiwa yang bermacam-macam.
Misalnya,turunnyan ayat tentang
kisahnya Dzul Qarnain yang disebabkan oleh pertanyaan seorang yahudi kepada Nabi perihal Dzul Qarnain. Qatadah berkata;
ان
اليهود ساءلوا نبيالله ص م عن ذي القرنين فانزل االله هذه الاية يسااءلونك عن ذي القرنين قل ساءتلوا عليكم منه
ذكرا
:sesungguhnya orang-orang yahudi bertanya
kepada Nabi perihal Dzul Qarnain, maka Allah menurunkan surat al-Kahfi ayat 83
dan seterusnya, yang artinya :’mereka akan bertanya kepadamu (Muhammad) tentang
Dzul Qarnain, katakanlah: Aku akan bacakan kepadamu cerita-cerita tentangnya.[4]
E) Pengetahuan Sahabat tentang Asbabun Nuzul
Tiada
seorang sahabat pun yang dapat menyaksikan turunnya semua ayat Al-Quran beserta
asbabun nuzulnya. Hal ini wajar, karenaayat-ayat Al-Quran itu diturunkan secara
berangsur-angsur dalam waktu kurang lebih tahun, sedand tempat-tempat dan
peristiwa-peristiwa berbeda-beda Demikian pula tidak semua dan tidak selalu
ayat-ayat itu turun dengan didahului oleh suatu sebab.Karena itu,ucapan
beberapa sahabat yang disertai sumpah yang bias member kesan seolah-olah mereka
mengetahui semuayang turun beserta asbabun nuzulnya. Maka hendaklah kita memahaminya tidak secara
harfiyah(letterlijk). Misalnya ucapan Ali r.a:
والله
ما نزلتا اية الا وانا اعام فيم نزلت واين نزلت
“Demi Allah, tida suatu ayat yang turun,
melainkan saya mengetahui terhadap apa/siapa dan dimana ayat itu diturunkan”.
Ibnu Mas’ud r.a juga pernah
mengeluarkan pertanyaan seperti itu. Dalam hal ini menurut Dr.Shubhi al-Shalih,
ada beberapa kemungkinan, yaitu:
Pertama : Ucapan Ali r.a tersebutdimaksudkan
untuk menunjukkan besarnya perhatian mereka terhadap Al-Quran dan segala
sesuatu yang ada hubungannya dengan Al-Quran (Asbabun Nuzul ). Jadi ucapan
tersebut adalah sekedar untuk mubalaghah (berlebih-lebihan), sesuai dengan
kebiasaan bangsa arab.
Kedua : Terdorong oleh iktikad baik
mereka (Ali r.a) terhadap segala sesuatu
yang mereka dengar dan saksikan terhadap ayat-ayat al-quran pada zaman Nabi,
dan terdorong oleh keinginan mereka, agar umat islam mengambil segala sesuatu
yang mereka ketahui tentang al-quran, sehingga ilmu mereka tidak lenyap setelah
mereka meninggal dunia.
Ketiga : Ali r.a mungkin tidak
pernah mengeluarkan ucapan tersebut, karerna ucapan itu dapat memberikan kesan
sikap (sifat) sombong pada diri Ali
r.a dengan membanggabanggakan ilmunya
itu. Hal ini jelas tidak sesuai dengan kepribadian Ali r.a yang terkenal
sebagai sahabat-sahabat nabi yang sangat tawadhuk dan sangat berhati-hati dalam
memberikan pendapat-pendapatnya mengenai masalah-masalah agama. Ucapan tersebut
mungkin berasal dari tambahan perawi sendiri, kemudian mereka anggap sebagai
perkataan Ali r.a.[5]
F) Pentingnya Ilmu Asbabun
Nuzul
Pemahaman
asbabun nuzul akan sangat membantu dalam
memahami konteks turunnya ayat. Ini sangat penting untuk menerapkan ayat-ayat
pada kasus dan kesempatan yang berbeda. Peluang terjadinya kekeliruan akan
semakin besar jika mengabaikan riwayat
sabab an nuzul.
Ibnu Taimiyah (wafat tahun 726 H)
menegaskan:
معرفة سبب
النزول تعين علي فهم الاية فان العلم با لسبب يورث العلم با لمسبب
:mengetahui sebab turunnya ayat
dapat menolong untuk memahami ayat,karena sesungguhnya mengetahui sebabnya
dapat menghasilkan pengetahuan tentang akibatnya.”
Muhammad Chirzin dalam bukunya :
Al-Quran dan ‘Ulum Al Quran menjelaskan, dengan ilmu asbab an nuzul.I,pertama,
seseorang dapat mengetahui hikmah dibalik syariat yang diturunkan melalui sebab
tertentu. Kedua,seseorang dapat mengetahui pelaku atau orang yang terlibat
dalam peristiwa yang mendahului turunnya suatu ayat. Ketiga,seseorang dapat
menentukan apakah ayat mengandung pesan khusus atau umum dan dalam keadaan
bagaimana ayat itu mesti diterapkan.
Keempat,seseorang dapat menyimpulkan bahwa Allah selalu memberi
perhatian penuh pada Rasulullah dan selalu bersama para hamba-Nya.
Dalam kaitannya dengan kajian ilmu
shari’ah dapat ditegaskan bahwa pengetahuan tentang asbab an nuzul berfungsi
antara lain :
1.
Mengetahui hikmah dan rahasia diundangkannya sutu hokum dan
perhatian syara’ terhadap kepentingan umum, tanpa membedakan etnik,jenis
kelamin dan agama. Jika dianalisa secara cermat, proses penetapan hokum
berlangsung secara manusiawi, seperti pelarangan minum,an keras, misalnya
ayat-ayat al quran turun dalam empat kali tahapan yaitu; Q.S An Nahl:67, Q.S Al-Baqarah:219,Q.S.An
Nisa’:43 dan Q.S Al Maidah :90-91
2.
Mengetahui asbab an nuzul membantu memberikan kejelasan terhadap
beberapa ayat. Misalnya Urwah Ibn Zubair
mengalami kesulitan dalam memahami
hukumfardhu sa’I antara safa dan Marwah, Q.S al-Baqarah; 158
ان الصفا والمروة من شعا ئرالله فمن حج البيت او اعتمر فلا جناح عليه
ان يطوف بهما ومن تطوع خيرا فان الله شاكر عليم(158)
Artinya :”
Sesungguhnya Safa dan Marwah adalah sebagian dari shiar-shiar Allah. Barang siapa yang beribadah haji ke Baitullah atau
berumrah,maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’I antara keduanya. Dan
barang siapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati,Sesungguhnya
Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui.”
Urwah
ibn Zubair kesulitan memahami”tidak ada dosa” di dalam ayat ini. Ia lalu
menanyakan kepada Aishaah perihal ayat tersebut, lalu Aishah menjelaskan bahwa
peniadaan dosa disitu bukan peniadaan
hokum fardhu. Peniadaan disitu di maksudkan sebagai penolakan terhadap
keyakinan yang telah mengakar dihati muslimin ketika itu, bahwa melakukan Sa’I
antara Safa dan Marwah termasuk perbuatan jahiliah. Keyakinan ini
didasarkan atas pandangan bahwa pada
masa pra islam di bukit Safa terdapat sebuah patung yang disebut “Isaf” dan di
Bukit Marwah ada sebuah patung yang disebut “Na’ilah”. Jikan melakukan Sa’I di
antara dua bukit itu orang-orang jahiliyah sebelumnya mengusap kedua patung
tersebut. Ketika Islam dating patung-patung tersebut dihancurkan, dan sebagian
umat islam enggan melakukan Sa’I di tempat itu, maka turunlah ayat ini
(Q.Sal-Baqarah:158).
3.
Pengetahuan asbab an nuzul
dapat mengkhushuskan hokum terbatas pada sebab, terutama para ulama’ yang
menganut kaidah “sebab khusus”. Sebagai contoh turunnya ayat-ayat dhihar pada
permulaan suratal-Mujadalah, yaitu dalam kasus Aus ibn As-samit yang menzihar
istrinya, Khaulah binti Hakam Ibn Tha’labah. Hukum yang terkandung di dalam
ayat-ayat inikhusus bagi keduanya dan tidakberlaku bagi yang lain.
4.
Yang paling penting ialah Asbab An Nuzul dapat membantu memahami
apakah suatu ayat berlaku umum atau berlaku khusus,selanjutnya dalam hal apa
ayat itu diterapkan. Maksud sesungguhnya suatu ayat dapat dipahami melaluipengenalan asbab an nuzul.
5.
Pengetahuan asbab an nuzul akan mempermudah orang-orang menghafal
Al-Quran serta memprkuat keberadaan
wahyu dalam ingatan orang yang mendengarnya jika mengetahui sebab turunnya.
Sebab, pertalian antara sebab dan musabab (akibat), hokum dan peristiwanya,
peristiwa dan pelaku, masa dan tempatnya, semua ini merupakan factor-faktir
yang menyebabkan mantapnya dan
terlukisnya dalam ingatan. [6]
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
ü Asbabun
nuzul adalah suatu konsep, teori, atau berita tentang sebab-sebab turunnya
wahyu tertentu dari Al-Quran kepada nabi Muhammad SAW, baik berupa satu ayat
maupun rangkaian ayat
ü Singkatnya
asbabul nuzul di ketahui melalui riwayat yang disandarkan kepada nabi Muhammad
saw tetapi tidak semua riwayat yang diriwayat yang disandarkan kepadanya dapat
dipegang, riwayat yang dapat di pegang ialah riwayat yang memenuhi syarat
syarat tertentu sebagai mana di tetapkan para ahli hadist
ü Riwayat
riwayat asbab an-nuzul dapat digolongkan dalam dua kategori yaitu: Riwayat
riwayat yang pasti dan tegas, dan riwayat riwayat yang tidak pasti (mungkin).
ü sejarah
menunjukkan bahwa turunnya ayat-ayat Al-Quran itu ada dua macam, yaitu:
1)Ayat-ayat yang turun dengan didahului suatu sebab
2)
Ayat-ayat yang turun dengan tidak didahului suatu sebab
ü Pemahaman
asbabun nuzul akan sangat membantu dalam
memahami konteks turunnya ayat. Ini sangat penting untuk menerapkan ayat-ayat
pada kasus dan kesempatan yang berbeda.
ü Muhammad
Chirzin dalam bukunya : Al-Quran dan ‘Ulum Al Quran menjelaskan, dengan ilmu
asbab an nuzul.I,pertama, seseorang dapat mengetahui hikmah dibalik syariat
yang diturunkan melalui sebab tertentu. Kedua,seseorang dapat mengetahui pelaku
atau orang yang terlibat dalam peristiwa yang mendahului turunnya suatu ayat.
Ketiga,seseorang dapat menentukan apakah ayat mengandung pesan khusus atau umum
dan dalam keadaan bagaimana ayat itu mesti diterapkan. Keempat,seseorang dapat menyimpulkan bahwa
Allah selalu memberi perhatian penuh pada Rasulullah dan selalu bersama para
hamba-Nya.
DAFTAR PUSTAKA
Musafa’ah
Suqiah dkk, study alqu’an, Surabaya. IAIN Sunan Ampel pres..2001
Prof. drs.H.
Masjfuk zuhdi. Pengantar ulumul qur’an. Cetakan V. Surabaya. Karya
abditama.1997
[3]Musafa’ah Suqiah dkk, study
alqu’an. . Surabaya. IAIN Sunan Ampel pres.2001. hal 175
[4] Prof. drs.H. Masjfuk zuhdi. Pengantar ulumul qur’an. Cetakan V.
Surabaya. Karya abditama.1997 hal. 36-38
[5] Prof. drs.H. Masjfuk zuhdi. Pengantar ulumul qur’an. Cetakan V.
Surabaya. Karya abditama.1997 hal 40
[6] Prof. drs.H. Masjfuk zuhdi. Pengantar ulumul qur’an. Cetakan V.
Surabaya. Karya abditama.1997 hal 41-44
Tidak ada komentar:
Posting Komentar