Kamis, 23 April 2015

Pengertian asbab an-nuzulul Qur’an



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Sebagai mana diterangkan bahwasana ilmu imu al qur an itu banyak sekali macamnya, didalam pembahasan ini sesuai dengan namanya ilmu asbabul nuzul, maka tidak semua ilmu al quran dibahas dengan seperinci mungkin melainkan hanya sebagian ilmu ilmu yang sekiranya penting. Dalam tugas ilmu ulumul qur’an ini kami mencoba memaparkan tentang asbab an-nuzul qur’an dan beberapa hal yang tetkait di dalamnya.

B.     Rumusan Masalah
Untuk membahas makalah ini lebih lanjut, di perlukan adanya rumusan masalah sebagai berikut:
·         Pengertian Asbabun An-Nuzul
·         cara mengetahui riwayat asbab an-nuzul
·         jenis jens riwayat asbab an-nuzul
·         Pengetahuan Sahabat tentang Asbabun Nuzul
·         Cara-cara turunnya Al-Quran
·         Pentingnya  Ilmu Asbabun Nuzul


C.    Tujuan Penulisan
Untuk memenuhi tugas makalah dari mata kuliah ulumul qur’an, serta kita bisa lebih mengenal tentang silsilah asbabun nuzul dan lebih memudahkan kita untuk mempelajari lebih jauh lagi sehingga dalam proses mempelajarinya kita tidak menemukan kesulitan.  




BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Asbabun An-Nuzul
a) pengertian asbabun nuzul secara etimologi
Asbabun An-Nuzul, secara bahasa berasal dari kata  asbab yang berarti latar belakang, alasan atau sebab/’illat , dan nazala yang berarti turun.
b)  Asbabun Nuzul Secara Terminology
menurut M.Hasbi Ash Shiddiqi,asbabun nuzul adalah sebagai kejadian yang karenanya diturunkan alquran untuk menerangkan hukumnya dihari timbul kejadian-kejadian itu dan suasana didalamnya alquran diturunkan.
Pendapat yang hampir sama juga dikemukakan oleh Subhi as-Salih yaitu sesuatu yang menyebabkan turunnya satu atau beberapa ayat yang memberi jawaban terhadap sebab itu, atau menerangkan hukumnya pada masa terjadinya sebab itu.
Menurut Manna Khalil Al-Qattan,
ما نزل قران بشاء نه وقت وقوعه كحا ثه اوسؤال
Asbabun Nuzul adalah peristiwa yang menyebabkan turunnya al quran berkenaan dengannya waktu peristiwa itu terjadi, baik berupa satu kejadian atau berupa pertanyaan yang diajukan kepada Nabi”.
Subhi AsShali dalam bukunya; mabahith fi Ulum Al-Quran;
ما نزلت الا ية اوالايات بسببه متضمنة له او مجيبة عنه او مبينة لحكمه زمن وقوعه
Asbab An-Nuzul adalah sesuatu yang menjadi sebab turunnya satu atau beberapa ayat Al-Quran yang terkadang menyiratkan suatu peristiwa sebagai respon atasnya atau sebagai penjelas terhadap hukum-hukum ketika peristiwa itu terjadi.
Dari beberapa pendapat diatas maka dapat disimpulkan, bahwa secara umum asbabun nuzul adalah suatu konsep, teori, atau berita tentang sebab-sebab turunnya wahyu tertentu dari Al-Quran kepada nabi Muhammad SAW, baik berupa satu ayat maupun rangkaian ayat atau juga bisa di sebut kejadian yang karenanya di turunkan al quran untuk menerangkan hukumnya di hari timbul kejadian kejadian itu dan suasana  yang ada di dalam al quran diturunkan serta membicarakan sebab yang muncul baik diturunkan langsung sesudah terjadi sebab ataupun lantaran sesuatu hikmah .[1]
B) Cara mengetahui riwayat asbab an-nuzul
Asbab an-nuzul adalah peristiwa yang terjadi pada zaman rasullullah saw, oleh karna itu, yidak ada jalan untuk mengetahuinya selain berdasarkan periwayatan yang benar (naql as-saliih) dari orang orang yang melihat dan mendengar langsung turunya ayat al quran, serta tidak mungkin dapat diketahui dengan jalur ro’yi atau pikiran manusia.
Dalam hal ini alwahidi berkata :
لايحل القول في اسباب نزول الكتاب الاّ بالرواية والسماع ممن شاهدو التتريل ووقفوا علي الاسباب وبحثوا عن علمها

Artinya: tidak boleh memperkatakan tentang sebab sebab turun al quran melainkan dengan dasar riwayat dan mendengar dari orangorang yang menyaksikan ayat itu diturunkan dengan mengetahui sebab sebab serta membahas pengertianya.
Singkatnya asbabul nuzul di ketahui melalui riwayat yang disandarkan kepada nabi Muhammad saw tetapi tidak semua riwayat yang diriwayat yang disandarkan kepadanya dapat dipegang, riwayat yang dapat di pegang ialah riwayat yang memenuhi syarat-syarat tertentu sebagai mana di tetapkan para ahli hadist . secara khusus dari riwayat asbabun nuzul ialah riwayat dari orang orang yang terlibat dan mengalami peristiwa yang di riwayatkanyaitu pada saat wahyu turun, riwayat yang berasal dari tabiin yang tidak merujuk pada rasulullah saw dan para sahabatnya dianggap lemah atau dhoif.
Berdasarkan keterangan diatas, maka sebab anuzul yang diriwayatkan dari seorang sahabat dapat diterima sekalipun tidak di kuatkan dan didukung riwayat lain.[2]



C) Jenis Jenis Riwayat Asbab An-Nuzul
Riwayat riwayat asbab an-nuzul dapat digolongkan dalam dua kategori yaitu: Riwayat riwayat yang pasti dan tegas, dan riwayat-riwayat yang tidak pasti (mungkin).
Kategori pertama para periwayat dengan tegas menunjukan bahwa peristiwa yang di riwayatkan berkaitan erat dengan asbab an-nuzul.
Sedangkan kategori kedua (mungkin), perawi tidak menceritakan dengan jelaas bahwa peristiwa yang diriwayatkan berkaitan erat dengan asbab an-nuzul, tetapi hanya menjelaskan kemungkinan kemungkinannya.
Daari segi jumlah sebab dan ayat turun , sebab anuzul dapat dibagi kepada:
1.                  Ta’addud al-asbab wa al-nazil wahid
Beberapa sebab yang hanya melatar belakangi turunya suatu ayat atau wahyu. Terkadang wahyu turun untuk menanggapi beberapa peristiwa atau sebab, misalnya turunya QS. Al-Ikhlas :1-4
Yang artinya: katakanalah : dial ah ALLAH, yang maha esa, ALLAH adalah Tuhan yang bergantung kepadanya segala sesuatu. Tiada beranak dan tiada pula diperanakan dan tiada seorang pun yang setara dengan dia.
Ayat-ayat yang trdapat pada surat di atas turun sebagai tanggapan terhadap orang-orang musyrik mekah sebelum nabi hijrah dan terhadap kaum ahli kitab yang ditemui di madinah setelah hijrah
2.                  Ta’addud an-nazil wa al-asbab wahid
Satu sebab yang melatar belakangi turunya beberapa ayat, contoh: QS ad dukhan 10,15,16;
فارتقب يوم تأتي السماء بد خان مبين  
Maka tunggullah hari ketika langit membawa kabut yang nyata.
إنا كا شفو اْالعذاب قليلا ،إنكمعاءدون
Sesungguhnya (kalau) kami akan melenyapkan siksaan itu agak sedikit sesungguhnya kamu akan kembali (ingkar)
يوم نبطش البطشة الكبري إنا منتقمون
(ingatlah) hari (ketika) kami menghantam mereka dengan hantaman yang keras. Sesungguhnya kami adalah pemberi balasan.

Asbab an- nuzul dari ayat ayat tersebut adalah dalam suatu riwayat di kemukakan, ketika kaum quraisy durhaka kepada nabi saw, beliau berdo’a agar mereka mendapatkan kelaparan umum seperti kelaparan yang pernah terjadi pada zaman nabi yusuf as. Alhasil mereka menderita kekurangan, sampai sampai merekapun makan tulang, sehingga turunlah qur’an surat ad dukhan ayat 10. Kemudian mereka menghadap nabi saw untuk meminta bantuan. Maka rasulullah berdo’a agar di tutunkan hujan, akhirnya hujanpun turun, maka turunlah ayat selanjutnya, qur’an surat ad dukhan ayat 15. Namun setelah mereka memperoleh kemewahan merekapun kembali kepada keadaan semula (sesat dan durhaka) maka turunlah ayat ini qu’an surat ad dukhan ayat 16. Dalam riwayat tersebut di kemukakan bahwa siksaan itu akan turun pada waktu perang badar.[3]
D) Cara-cara turunnya Al-Quran
Fakta sejarah menunjukkan bahwa turunnya ayat-ayat Al-Quran itu ada dua macam, yaitu:
1)Ayat-ayat yang turun dengan didahului suatu sebab
Dalam hal ini ayat-ayat tasyri’iyyah atau ayat-ayat hukum merupakan ayat-ayat yang pada umunya mempunyai sebab turunnya. Jarang(sedikit) sekali ayat-ayat hukum yang turun tanpa suatu sebab. Dan turunnya suatuayat itu adakalanya berupa peristiwa yang terjadi di masyarakat islam dan adakalanya berupa pertanyaan dari kalangan islam atau arikalangan lainnya yang ditujukan kepada Nabi.
Contoh ayat yang turun karena ada suatu peristiwa, ialah sural al-Baqoroh ayat 221:
ولا تنكحوا المشركات حتي يؤمن ولا مة مؤمنة خير من مشركة ولواعجبتكم ولا تنكحوا المشركين حتي يؤمنا ولاعبد مؤمن خر من مشرك ولو اعجبكم اولئك يدعون الي النار والله يدعو الي الجنة والمغفرة باءذنه ويبين اياته للناس لعلهم يتذكرون
“Janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik,sebelum mereka beriman; sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum merekaberiman;  Sesunguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu; Mereka mengajak ke Neraka sedang Allah mengajak ke Syurga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia, supaya mereka mengambil pelajaran.”
Tujuan ayat ini adalah, karena ada peristiwa sebagai berikut: Nabi mengutus Murtsid al-Ghanawi ke Mekkah untuk tugas mengeluarkan orang-orang islam yang lemah. Setelah dia sampai disana, dia dirayu oleh wanita musyrik  yang cantik dan kaya, tetapi dia menolak karena takut kepada Allah. Kemudian wanita tersebut datang lagi dan minta agar dikawini.  Murtsid pada prinsipnya dapat menerimanya, tetapi dengan syarat setelah mendapat persetujuan dari  Nabi. Setelah dia kembali ke Madinah, dia menerangkan kasus yang dihadapi dan minta izin kepada Nabi untuk menikah dengan wanita itu. Maka turunlah surah al-Baqarah ayat 221.
2) Ayat-ayat yang turun tanpa didahului sesuatu sebab
Ayat-ayat ini diturunkan oleh Allah bukan untuk memberi tanggapan terhadap suatu pertanyaan atau suatu peristiwa yang terjadi pada waktu itu, melainkan semata-mata untuk memberi petunjuk kepada manusia, agar menempuh jalan yang lurus.  
Karena itu tidaklah benar dugaan sebagian ulama, bahwa setiap ayat yang turunitu mempunyai asbabun nuzul. Bahkan hanya sebagian kecil  saja ayat-ayat al-Quran yag mempunyai asbabun nuzul, yakniayat-ayat ahkam.di luar ayat-ayat ahkam, seperti ayat-ayat  yang mengisahkan hal-ihwal para nabi beserta umatnya, pada umumnya tidak punya Asbabun Nuzulnya. Kalau ayat-ayat ini  bisa dikatakan punya  asbabun Nuzul, maka Asbabun Nuzulnya hanya mempunyai satu motif saja yang bersifat umum, yakni untuk menghibur Nabi Muhammad dan untuk menguatkan hatinya dalam menghadapi berbagai  tantangan yang keras, terutama dari kaumnya sendiri(quraisy). Misalnya ayat-ayat tentang kisah Nabi Musa, yang berulang-ulang diungkapkan di tempat-tempat yang terpencar-pencar dengan gambaran peristiwa yang bermacam-macam.
Misalnya,turunnyan ayat tentang kisahnya Dzul Qarnain yang disebabkan oleh pertanyaan  seorang yahudi kepada  Nabi perihal Dzul Qarnain. Qatadah berkata;
ان اليهود ساءلوا نبيالله ص م عن ذي القرنين فانزل االله هذه الاية   يسااءلونك عن ذي القرنين قل ساءتلوا عليكم منه ذكرا
:sesungguhnya orang-orang yahudi bertanya kepada Nabi perihal Dzul Qarnain, maka Allah menurunkan surat al-Kahfi ayat 83 dan seterusnya, yang artinya :’mereka akan bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Dzul Qarnain, katakanlah: Aku akan bacakan kepadamu cerita-cerita tentangnya.[4]
E) Pengetahuan Sahabat tentang Asbabun Nuzul
Tiada seorang sahabat pun yang dapat menyaksikan turunnya semua ayat Al-Quran beserta asbabun nuzulnya. Hal ini wajar, karenaayat-ayat Al-Quran itu diturunkan secara berangsur-angsur dalam waktu kurang lebih  tahun, sedand tempat-tempat dan peristiwa-peristiwa berbeda-beda Demikian pula tidak semua dan tidak selalu ayat-ayat itu turun dengan didahului oleh suatu sebab.Karena itu,ucapan beberapa sahabat yang disertai sumpah yang bias member kesan seolah-olah mereka mengetahui semuayang turun beserta asbabun nuzulnya.  Maka hendaklah kita memahaminya tidak secara harfiyah(letterlijk). Misalnya ucapan Ali r.a:
والله ما نزلتا اية الا وانا اعام فيم نزلت واين نزلت
“Demi Allah, tida suatu ayat yang turun, melainkan saya mengetahui terhadap apa/siapa dan dimana ayat itu diturunkan”.
Ibnu Mas’ud r.a juga pernah mengeluarkan pertanyaan seperti itu. Dalam hal ini menurut Dr.Shubhi al-Shalih, ada beberapa kemungkinan, yaitu:
Pertama : Ucapan Ali r.a tersebutdimaksudkan untuk menunjukkan besarnya perhatian mereka terhadap Al-Quran dan segala sesuatu yang ada hubungannya dengan Al-Quran (Asbabun Nuzul ). Jadi ucapan tersebut adalah sekedar untuk mubalaghah (berlebih-lebihan), sesuai dengan kebiasaan bangsa arab.
Kedua : Terdorong oleh iktikad baik mereka  (Ali r.a) terhadap segala sesuatu yang mereka dengar dan saksikan terhadap ayat-ayat al-quran pada zaman Nabi, dan terdorong oleh keinginan mereka, agar umat islam mengambil segala sesuatu yang mereka ketahui tentang al-quran, sehingga ilmu mereka tidak lenyap setelah mereka meninggal dunia.
Ketiga : Ali r.a mungkin tidak pernah mengeluarkan ucapan tersebut, karerna ucapan itu dapat memberikan kesan sikap (sifat) sombong  pada diri Ali r.a  dengan membanggabanggakan ilmunya itu. Hal ini jelas tidak sesuai dengan kepribadian Ali r.a yang terkenal sebagai sahabat-sahabat nabi yang sangat tawadhuk dan sangat berhati-hati dalam memberikan pendapat-pendapatnya mengenai masalah-masalah agama. Ucapan tersebut mungkin berasal dari tambahan perawi sendiri, kemudian mereka anggap sebagai perkataan  Ali r.a.[5]
F) Pentingnya  Ilmu Asbabun Nuzul
Pemahaman asbabun nuzul akan sangat  membantu dalam memahami konteks turunnya ayat. Ini sangat penting untuk menerapkan ayat-ayat pada kasus dan kesempatan yang berbeda. Peluang terjadinya kekeliruan akan semakin besar jika  mengabaikan riwayat sabab an nuzul.
Ibnu Taimiyah (wafat tahun 726 H) menegaskan:
معرفة سبب النزول تعين علي فهم الاية فان العلم با لسبب يورث العلم  با لمسبب
:mengetahui sebab turunnya ayat dapat menolong untuk memahami ayat,karena sesungguhnya mengetahui sebabnya dapat menghasilkan pengetahuan tentang akibatnya.”
Muhammad Chirzin dalam bukunya : Al-Quran dan ‘Ulum Al Quran menjelaskan, dengan ilmu asbab an nuzul.I,pertama, seseorang dapat mengetahui hikmah dibalik syariat yang diturunkan melalui sebab tertentu. Kedua,seseorang dapat mengetahui pelaku atau orang yang terlibat dalam peristiwa yang mendahului turunnya suatu ayat. Ketiga,seseorang dapat menentukan apakah ayat mengandung pesan khusus atau umum dan dalam keadaan bagaimana ayat itu mesti diterapkan.  Keempat,seseorang dapat menyimpulkan bahwa Allah selalu memberi perhatian penuh pada Rasulullah dan selalu bersama para hamba-Nya.
Dalam kaitannya dengan kajian ilmu shari’ah dapat ditegaskan bahwa pengetahuan tentang asbab an nuzul berfungsi antara lain :
1.      Mengetahui hikmah dan rahasia diundangkannya sutu hokum dan perhatian syara’ terhadap kepentingan umum, tanpa membedakan etnik,jenis kelamin dan agama. Jika dianalisa secara cermat, proses penetapan hokum berlangsung secara manusiawi, seperti pelarangan minum,an keras, misalnya ayat-ayat al quran turun dalam empat kali tahapan yaitu;  Q.S An Nahl:67, Q.S Al-Baqarah:219,Q.S.An Nisa’:43 dan Q.S Al Maidah :90-91
2.      Mengetahui asbab an nuzul membantu memberikan kejelasan terhadap beberapa ayat. Misalnya Urwah Ibn  Zubair mengalami kesulitan dalam memahami  hukumfardhu sa’I antara safa dan Marwah, Q.S al-Baqarah; 158
ان الصفا والمروة من شعا ئرالله فمن حج البيت او اعتمر فلا جناح عليه ان يطوف بهما ومن تطوع خيرا فان الله شاكر عليم(158)
Artinya :” Sesungguhnya Safa dan Marwah adalah sebagian dari shiar-shiar  Allah. Barang siapa yang  beribadah haji ke Baitullah atau berumrah,maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’I antara keduanya. Dan barang siapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati,Sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui.”
            Urwah ibn Zubair kesulitan memahami”tidak ada dosa” di dalam ayat ini. Ia lalu menanyakan kepada Aishaah perihal ayat tersebut, lalu Aishah menjelaskan bahwa peniadaan dosa disitu bukan  peniadaan hokum fardhu. Peniadaan disitu di maksudkan sebagai penolakan terhadap keyakinan yang telah mengakar dihati muslimin ketika itu, bahwa melakukan Sa’I antara Safa dan Marwah termasuk perbuatan jahiliah. Keyakinan ini didasarkan  atas pandangan bahwa pada masa pra islam di bukit Safa terdapat sebuah patung yang disebut “Isaf” dan di Bukit Marwah ada sebuah patung yang disebut “Na’ilah”. Jikan melakukan Sa’I di antara dua bukit itu orang-orang jahiliyah sebelumnya mengusap kedua patung tersebut. Ketika Islam dating patung-patung tersebut dihancurkan, dan sebagian umat islam enggan melakukan Sa’I di tempat itu, maka turunlah ayat ini (Q.Sal-Baqarah:158).
3.       Pengetahuan asbab an nuzul dapat mengkhushuskan hokum terbatas pada sebab, terutama para ulama’ yang menganut kaidah “sebab khusus”. Sebagai contoh turunnya ayat-ayat dhihar pada permulaan suratal-Mujadalah, yaitu dalam kasus Aus ibn As-samit yang menzihar istrinya, Khaulah binti Hakam Ibn Tha’labah. Hukum yang terkandung di dalam ayat-ayat inikhusus bagi keduanya dan tidakberlaku bagi yang lain.
4.      Yang paling penting ialah Asbab An Nuzul dapat membantu memahami apakah suatu ayat berlaku umum atau berlaku khusus,selanjutnya dalam hal apa ayat itu diterapkan. Maksud sesungguhnya suatu ayat dapat dipahami  melaluipengenalan asbab an nuzul.
5.      Pengetahuan asbab an nuzul akan mempermudah orang-orang menghafal Al-Quran serta memprkuat  keberadaan wahyu dalam ingatan orang yang mendengarnya jika mengetahui sebab turunnya. Sebab, pertalian antara sebab dan musabab (akibat), hokum dan peristiwanya, peristiwa dan pelaku, masa dan tempatnya, semua ini merupakan factor-faktir yang menyebabkan mantapnya  dan terlukisnya dalam ingatan.   [6]
  









BAB III

PENUTUP
KESIMPULAN
ü  Asbabun nuzul adalah suatu konsep, teori, atau berita tentang sebab-sebab turunnya wahyu tertentu dari Al-Quran kepada nabi Muhammad SAW, baik berupa satu ayat maupun rangkaian ayat
ü  Singkatnya asbabul nuzul di ketahui melalui riwayat yang disandarkan kepada nabi Muhammad saw tetapi tidak semua riwayat yang diriwayat yang disandarkan kepadanya dapat dipegang, riwayat yang dapat di pegang ialah riwayat yang memenuhi syarat syarat tertentu sebagai mana di tetapkan para ahli hadist
ü  Riwayat riwayat asbab an-nuzul dapat digolongkan dalam dua kategori yaitu: Riwayat riwayat yang pasti dan tegas, dan riwayat riwayat yang tidak pasti (mungkin).
ü  sejarah menunjukkan bahwa turunnya ayat-ayat Al-Quran itu ada dua macam, yaitu:
1)Ayat-ayat yang turun dengan didahului suatu sebab
2) Ayat-ayat yang turun dengan tidak didahului suatu sebab
ü  Pemahaman asbabun nuzul akan sangat  membantu dalam memahami konteks turunnya ayat. Ini sangat penting untuk menerapkan ayat-ayat pada kasus dan kesempatan yang berbeda.
ü  Muhammad Chirzin dalam bukunya : Al-Quran dan ‘Ulum Al Quran menjelaskan, dengan ilmu asbab an nuzul.I,pertama, seseorang dapat mengetahui hikmah dibalik syariat yang diturunkan melalui sebab tertentu. Kedua,seseorang dapat mengetahui pelaku atau orang yang terlibat dalam peristiwa yang mendahului turunnya suatu ayat. Ketiga,seseorang dapat menentukan apakah ayat mengandung pesan khusus atau umum dan dalam keadaan bagaimana ayat itu mesti diterapkan.  Keempat,seseorang dapat menyimpulkan bahwa Allah selalu memberi perhatian penuh pada Rasulullah dan selalu bersama para hamba-Nya.


DAFTAR PUSTAKA

Musafa’ah Suqiah dkk, study alqu’an, Surabaya. IAIN Sunan Ampel pres..2001
Prof. drs.H. Masjfuk zuhdi. Pengantar ulumul qur’an. Cetakan V. Surabaya. Karya abditama.1997



[1] Musafa’ah Suqiah dkk, study alqu’an. . Surabaya. IAIN Sunan Ampel pres.2001. hal 165-166
[2] Musafa’ah Suqiah dkk, study alqu’an. . Surabaya. IAIN Sunan Ampel pres.2001. hal 166-169
[3]Musafa’ah Suqiah dkk, study alqu’an. . Surabaya. IAIN Sunan Ampel pres.2001. hal 175
[4] Prof. drs.H. Masjfuk zuhdi. Pengantar ulumul qur’an. Cetakan V. Surabaya. Karya abditama.1997 hal. 36-38

[5] Prof. drs.H. Masjfuk zuhdi. Pengantar ulumul qur’an. Cetakan V. Surabaya. Karya abditama.1997 hal 40
[6] Prof. drs.H. Masjfuk zuhdi. Pengantar ulumul qur’an. Cetakan V. Surabaya. Karya abditama.1997 hal 41-44

Tidak ada komentar:

Posting Komentar